Jalan-Jalan Santai Di Eropa: Paris Part 1/2
Tibalah saya di bandara Charles De Gaulle Paris sekitar pukul delapan pagi dengan suhu 4 °C setelah 13 jam perjalanan udara dari Ho Chi Minh City. Ini kali pertama saya melakukan solo trip di benua Eropa dan ini adalah suhu terendah yang pernah saya rasakan. Bermodalkan optimisme, riset melalui internet, dan tanya sana-sini selama beberapa bulan terakhir, perjalanan saya dimulai.
Niat saya di liburan kali ini sederhana. Ingin mendatangi museum seni dan menikmati kota sesuai kecepatan yang saya mau. Maksudnya, tanpa harus memenuhi itinerary yang padat atau yang dibuat oleh orang lain. With that being said, itinerary solo trip saya kali ini sangat santai dan tidak ambisius.
Niat saya di liburan kali ini sederhana. Ingin mendatangi museum seni dan menikmati kota sesuai kecepatan yang saya mau. Maksudnya, tanpa harus memenuhi itinerary yang padat atau yang dibuat oleh orang lain. With that being said, itinerary solo trip saya kali ini sangat santai dan tidak ambisius.
Hari Pertama, 11 Februari 2018.
Itinerary: Bandara - Titip koper di hotel - Hop on hop off bus tour Blue Route - Walking tour Montmartre - Check in hotel
Dari bandara, saya membeli tiket kereta menuju stasiun Gare Du Nord, stasiun terbesar di Paris. Di sana saya akan turun dan berjalan kaki ke penginapan dengan waktu tempuh sekitar 8 menit.
Di tengah perjalanan dari Gare Du Nord menuju hotel, saya memutuskan untuk singgah menikmati Croissants dan secangkir kopi. Lagipula masih waktunya sarapan. Baru beberapa hari kemudian saya sadar bahwa kota ini memiliki terlalu banyak Croissants dan pastries lainnya untuk dimakan hingga membuat saya bosan, haha. Di Cafe ini, saya membuka sketch book yang saya bawa dari Jakarta dan mulai menggambar.
Hanya butuh sepuluh menit jalan kaki dari Gare Du Nord menuju Vintage Gare Du Nord Hotel tempat saya menginap. Ada alasan sebenarnya mengapa saya memilih hotel bukan Airbnb seperti yang sering kali disarankan oleh teman-teman budget traveler. Alasan saya, sebagai introvert yang ingin menikmati liburan dengan melakukan kontak dengan manusia lain seminim mungkin, saya merasa hotel lebih praktis dan saya tidak perlu bolak balik menghubungi pemilik rumah seperti yang harus dilakukan di Airbnb. Tinggal booking via web, check in, selesai (well, it's just my preference).
Anyway, tentunya saya baru bisa check in pukul 14.00 waktu setempat, namun saya dibolehkan menitipkan koper di ruangan khusus sehingga saya dapat mulai keliling kota. Ketika sedang cek peta di lobby hotel, seorang tamu Indian-American mendatangi saya dan mengajak berkenalan dan bertukar cerita. He clearly didn't read the sign that I'm an introvert, Duh! haha! Just kidding, he was actually a really cool friend and I am glad that I got to meet him. Gaurav, teman baru saya ini, menanyakan apa yang akan saya lakukan sore hari dan tertarik ikut walking tour Montmartre yang ada dalam jadwal saya. Kami berjanji bertemu di titik kumpul pukul 15.00. Lalu kami berpisah. Gaurav harus menyelesaikan pekerjaan, dan saya memulai bus tour.
Strategi saya untuk mengenal kota Paris adalah dengan keliling kota dengan bus dan mengikuti walking tour di hari pertama. Strategi ini menurut saya terbukti efektif dan saya akan lakukan lagi di perjalanan berikutnya.
Ada beberapa tour provider yang menyediakan hop-on-hop-off bus tour ini. Dengan tur bus seperti ini, kita bisa singgah di satu titik kemudian menunggu bus selanjutnya dengan membayar hanya sekali. Saya sendiri menggunakan jasa Big Bus. Ada 2 rute bus tour yang bisa diambil, Classic Route (Merah) dan Montmartre Route (Biru), keduanya melewati stasiun Gare Du Nord. Sepanjang perjalanan kita dapat mendengarkan audio guide setiap kali melawati tempat-tempat unik dan bersejarah. Khusus hari ini, saya menggunakan bus rute biru.
Rute biru ini melewati Gare Du Nord, Opera Garnier, Galleries Lafayette, Moulin Rouge, Montmartre.
| The view from the top of the bus |
Menjelang pukul 15.00 saya turun dari bus di titik Montmartre. Disini saya kembali bertemu Gaurav. Bersama pendatang lainnya, kami memulai walking tour area ini.
"Cara terbaik menikmati Montmartre adalah dengan membiarkan dirimu tersesat diantara gang kecilnya" kata tour guide kami waktu itu. Saat melakukan riset, Montmartre memang merupakan area yang paling ingin saya kunjungi. Alasan pertama karena sejarah area ini yang dulunya merupakan area pinggiran kota Paris yang memiliki tarif sewa apartemen yang murah, sehingga struggling artists seperti Van Gogh dan Picasso memilih tinggal disini. Tidak akan bisa memisahkan sejarah seniman-seniman besar ini dengan tempat kumuh bernama Montmartre. Tapi itu dulu, saat ini Montmarte berubah menjadi area pemukiman eksklusif penuh street art yang, menurut penduduk lokal, ditempati oleh para hipster kota Paris. Alasan keduanya, area ini merupakan lokasi shooting film Amelie (2001). Salah satu film favorit saya yang disutradarai oleh Jean-Pierre Jeunet.
Walking tour kami berakhir di Basilika Sacre Coeur pada pukul 18.00. Kemudian Saya dan Gaurav berjalan kaki selama 20 menit menuju hotel.
| The Cafe of Amelie Poulain |
| Espresso di Cafe Amelie seharga 1 Euro. |
| Tour Guide kami sedang menjelaskan area Montmartre |
|
| Basilika Sacre Couer |
Malam harinya, saya berjalan ke luar hotel membeli kebab untuk makan malam. Saya tidak berniat jalan-jalan lagi malam itu. Udaranya terlalu dingin untuk anak asal kalimantan ini (mencapai 0°C) dan bermalas-malasan di hotel dengan pemanas ruangan terdengar jauh lebih nyaman.
Okay, ternyata cukup panjang juga ya cerita hari pertama. Sebelum menyudahi cerita hari pertama, saya jadi ingat ketika sebelum berangkat, banyak teman-teman saya yang bilang bahwa Paris bukanlah kota yang aman dan banyak kasus turis yang kecopetan. Alhamdulillah, hal ini tidak terjadi dengan saya selama perjalanan, kemungkinan dikarenakan saya menghindari mengeluarkan kamera dan handphone di tempat umum, dan take my time to observe how local people do things there, so I wouldn't seem so "tourist".
Hari Kedua, 12 Februari 2018.
Itinerary: Hop on hop off tour red route - Louvre Museum - Notre Dame - Shakespeare and Co Book Store - Seine River Cruise
Setelah melewati malam penuh jet lag, saya melanjutkan perjalanan di hari kedua. Kali ini saya berniat mengikuti bus tour rute merah yang melewati menara Eiffel - Champ De Mars - Opera Garnier - Louvre Museum - Notre Dame - Musee D'Orsay - Champs Elysees - Grand Palais - Trocadero. Untuk mempermudah perjalanan, saya sengaja booking paket tur bus dua hari yang menawarkan bonus gratis tur sungai Seine menggunakan kapal.
Setelah melewati satu putaran, saya turun di museum Louvre pada pukul 11.00. Sebelum masuk, saya mulai dengan mengagumi bangunan piramid yang pernah kita baca dalam buku Da Vinci Code karya Dan Brown. Meskipun sebagian arsitek beranggapan bahwa piramid ini bukan ide yang bagus, namun konon keberadaan berhasil meningkatkan arus pengunjung dengan sangat pesat.
Antrian masuk museum ini cukup panjang. Untungnya saya sudah memesan jauh-jauh hari sebelum kedatangan sehingga dapat baris antrian tersendiri. Ini juga salah satu tips yang paling berguna, yaitu membeli tiket tujuan wisata via online sebelum hari H melalui situs resmi (bukan tour provider). Selain menghindari antri di outdoor dengan cuaca yang dingin, harganya pun seringkali jauh lebih murah.
Terdapat tiga gerbang utama untuk memasuki museum ini, yaitu gerbang Sully, Richelieu, dan Denon. Gerbang Sully biasa digunakan untuk memasuki pameran temporer. Gerbang Richelieu merupakan gerbang untuk melihat koleksi karya seniman Perancis. Sementara Denon, merupakan gerbang menuju karya seniman Eropa lainnya termasuk sang lukisan primadona, Monalisa.
Louvre juga dibagi kedalam delapan departemen; Near Eastern Antiquities, Egyptian Antiquities, Greek Etruscan and Roman Antiquities, Islamic Art, Sculptures, Decorative Arts, Paintings, Printings and Drawing. Dengan total koleksi sebanyak 380.000 pieces, konon kabarnya, butuh 100 hari untuk melihat semua karya seni. Itupun dengan hitungan 30 detik untuk melihat satu buah karya.
Informasi tentang waktu yang dibutuhkan untuk menikmati Louvre luput dari riset saya sebelum berangkat. Saya awalnya menjadwalkan kunjungan di Louvre hanya selama 3-4 jam. Namun karena saya terkagum-kagum (sampai rasanya ingin camping di dalam museum ini biar puas), saya memutuskan untuk mengikhlaskan tur sungai Seine supaya saya dapat menikmati Louvre lebih lama. toh sungai ini dapat saya lihat selama perjalanan dan ketika nanti berhenti di area Notre Dame.
Berikut sedikit cuplikan video yang saya buat di sana. Silahkan lihat sendiri antrian untuk selfie dengan The Famous Monalisa.
Pada pukul 16.30 saya keluar bangunan museum dan berjalan-jalan ke area taman masih dalam komplek Louvre. Lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Big Bus.
Saya berhenti di titik berikutnya untuk melihat katedral paling terkenal di dunia, Notre Dame. Pasti banyak yang setuju bahwa salah satu hal yang paling bisa kita ingat dari bangunan bernuansa Gothic ini adalah kisah Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo yang kemudian difilmkan oleh Disney pada tahun 1996. Oh poor Quasimodo!
Sesaat saya iseng membayangkan patung-patung Gargoyle dan Chimera disana tiba-tiba bergerak seperti dalam film.
Tidak jauh dari Katedral Notre Dame, banyak tempat souvenir untuk oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Namun bukan itu tujuan saya, beberapa langkah dari pasar oleh-oleh ini, terdapat toko buku yang sering kita lihat dalam film berlatar Paris, Shakespeare and Co. Tempat dimana Julia sadar bahwa tidak ada buku resep masakan perancis berbahasa inggris dalam film Julie & Julia (2009), Dimana Jesse mempromosikan bukunya berdasarkan pertemuan satu malamnya bersama Celine di Vienna dalam Before Sunset (2004), dan tempat dimana Gil Pender akhirnya memutuskan bahwa Ia akan tinggal selamanya di Paris, dalam Midnight in Paris (2011) karya Woody Allen.
Dari audio guide dalam bus, saya juga kemudian tahu bahwa tidak jauh dari area ini, terdapat jembatan tempat dimana Mr. Big akhirnya mengucapkan cinta kepada Carrie Bradshaw dalam season finale serial Sex and The City. This is iconic!
Matahari semakin bergerak ke arah barat dan suhu kota Paris semakin turun. Meski masih sangat terkagum-kagum dengan keindahan kota ini, kaki saya terasa lelah dan udara menjelang malam membuat saya semangat jalan-jalan saya menciut. Saatnya pulang ke hotel.
Dalam perjalanan pulang, saya melewati menara Grand Palais dan menara Eiffel sesaat sebelum matahari terbenam. Pantas saja sejak berabad-abad lalu seniman seluruh dunia berbondong-bondong ingin menggali inspirasi dari kota ini. This city is magical! even just talking about it days after the trip ended still gives me chills. I bet at some point in their lives, Van Gogh, Hemingway, Fitzgerald, and the other legends felt the same way as I do.
Setelah melewati satu putaran, saya turun di museum Louvre pada pukul 11.00. Sebelum masuk, saya mulai dengan mengagumi bangunan piramid yang pernah kita baca dalam buku Da Vinci Code karya Dan Brown. Meskipun sebagian arsitek beranggapan bahwa piramid ini bukan ide yang bagus, namun konon keberadaan berhasil meningkatkan arus pengunjung dengan sangat pesat.
Antrian masuk museum ini cukup panjang. Untungnya saya sudah memesan jauh-jauh hari sebelum kedatangan sehingga dapat baris antrian tersendiri. Ini juga salah satu tips yang paling berguna, yaitu membeli tiket tujuan wisata via online sebelum hari H melalui situs resmi (bukan tour provider). Selain menghindari antri di outdoor dengan cuaca yang dingin, harganya pun seringkali jauh lebih murah.
Terdapat tiga gerbang utama untuk memasuki museum ini, yaitu gerbang Sully, Richelieu, dan Denon. Gerbang Sully biasa digunakan untuk memasuki pameran temporer. Gerbang Richelieu merupakan gerbang untuk melihat koleksi karya seniman Perancis. Sementara Denon, merupakan gerbang menuju karya seniman Eropa lainnya termasuk sang lukisan primadona, Monalisa.
Louvre juga dibagi kedalam delapan departemen; Near Eastern Antiquities, Egyptian Antiquities, Greek Etruscan and Roman Antiquities, Islamic Art, Sculptures, Decorative Arts, Paintings, Printings and Drawing. Dengan total koleksi sebanyak 380.000 pieces, konon kabarnya, butuh 100 hari untuk melihat semua karya seni. Itupun dengan hitungan 30 detik untuk melihat satu buah karya.
| Patung The Nike of Samothrace menyambut kedatangan saya di Louvre |
Informasi tentang waktu yang dibutuhkan untuk menikmati Louvre luput dari riset saya sebelum berangkat. Saya awalnya menjadwalkan kunjungan di Louvre hanya selama 3-4 jam. Namun karena saya terkagum-kagum (sampai rasanya ingin camping di dalam museum ini biar puas), saya memutuskan untuk mengikhlaskan tur sungai Seine supaya saya dapat menikmati Louvre lebih lama. toh sungai ini dapat saya lihat selama perjalanan dan ketika nanti berhenti di area Notre Dame.
Berikut sedikit cuplikan video yang saya buat di sana. Silahkan lihat sendiri antrian untuk selfie dengan The Famous Monalisa.
Pada pukul 16.30 saya keluar bangunan museum dan berjalan-jalan ke area taman masih dalam komplek Louvre. Lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Big Bus.
Saya berhenti di titik berikutnya untuk melihat katedral paling terkenal di dunia, Notre Dame. Pasti banyak yang setuju bahwa salah satu hal yang paling bisa kita ingat dari bangunan bernuansa Gothic ini adalah kisah Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo yang kemudian difilmkan oleh Disney pada tahun 1996. Oh poor Quasimodo!
Sesaat saya iseng membayangkan patung-patung Gargoyle dan Chimera disana tiba-tiba bergerak seperti dalam film.
| Katedral Notre Dame |
Tidak jauh dari Katedral Notre Dame, banyak tempat souvenir untuk oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Namun bukan itu tujuan saya, beberapa langkah dari pasar oleh-oleh ini, terdapat toko buku yang sering kita lihat dalam film berlatar Paris, Shakespeare and Co. Tempat dimana Julia sadar bahwa tidak ada buku resep masakan perancis berbahasa inggris dalam film Julie & Julia (2009), Dimana Jesse mempromosikan bukunya berdasarkan pertemuan satu malamnya bersama Celine di Vienna dalam Before Sunset (2004), dan tempat dimana Gil Pender akhirnya memutuskan bahwa Ia akan tinggal selamanya di Paris, dalam Midnight in Paris (2011) karya Woody Allen.
| Toko buku paling terkenal di Paris, Shakespeare and Company |
Dari audio guide dalam bus, saya juga kemudian tahu bahwa tidak jauh dari area ini, terdapat jembatan tempat dimana Mr. Big akhirnya mengucapkan cinta kepada Carrie Bradshaw dalam season finale serial Sex and The City. This is iconic!
![]() |
| This is what I'm talking about. |
Matahari semakin bergerak ke arah barat dan suhu kota Paris semakin turun. Meski masih sangat terkagum-kagum dengan keindahan kota ini, kaki saya terasa lelah dan udara menjelang malam membuat saya semangat jalan-jalan saya menciut. Saatnya pulang ke hotel.
Dalam perjalanan pulang, saya melewati menara Grand Palais dan menara Eiffel sesaat sebelum matahari terbenam. Pantas saja sejak berabad-abad lalu seniman seluruh dunia berbondong-bondong ingin menggali inspirasi dari kota ini. This city is magical! even just talking about it days after the trip ended still gives me chills. I bet at some point in their lives, Van Gogh, Hemingway, Fitzgerald, and the other legends felt the same way as I do.


Comments
Post a Comment